INTEGRASI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DALAM PEMBELAJARAN
Oleh:
Kelompok 4
Nama: Nim: ARIMAN SALEH 2020100218
SALSABILA NST 2020100086 2
DLY
Dosen Pengampu:
DEWI SAHARA DALIMUNTHE, M.Pd
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
PADANG SIDIMPUAN
2021/2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat tuhan yang maha kuasa atas segala limpahan rahmat,inayah,Taufik dan hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana.Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.
Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca,sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami miliki sangat kurang.Oleh karena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.
Padangsidimpuan, September 2021
Penyusun kelompok 4
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...................... ii
DAFTAR ISI..................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN............…...................... 1
Latar Belakang...................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN.................................................3
DAFTAR PUSTAKA............................................ 15
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Studi teknologi pendidikan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan ini dapat dilihat sejak diperkenalkan istilah media fisik seperti alat peraga, audiovisual, filmstrip, videotape berkembang menjadi video interaktif, satelit, teleconference, Internet, dan berbagai software pembelajaran lainnya. Sekarang dunia menjadi datar (the world is flat) kata Thomas L. Friedman seolah mengisyaratkan bahwa dunia pun sudah berubah seiring dengan perubahan dalam kehidupan manusia. Bahkan Evelyn Waugh berkata bahwa change is the only evidence of life, perubahan adalah pertanda kehidupan. Sebagai suatu disiplin ilmu yang terlahir dari perpaduan berbagai disiplin lain seperti komunikasi, psikologi, teknologi, dan pendidikan, hadirnya perubahan dalam teknologi pendidikan tidak dapat dielakkan, bahkan menjadi bagian dari perancang perubahan itu sendiri. Menjadi perancang perubahan karena salah satu kajian teknologi pendidikan ada-lah difusi inovasi yang menuntut adanya proses imitasi, adopsi, adaptasi, modifikasi, kreasi, inovasi, dan integrasi. Sedangkan, integrasi adalah suatu upaya untuk melakukan penggabungan dua atau lebih elemen guna menghasilkan inovasi baru.
Dengan kata lain bahwa mengintegrasikan teknologi informasi ke dalam pembelajaran adalah suatu upaya untuk menggabungkan teknologi informasi dengan teori-teori pembelajaran guna menghasilkan cara dan strategi baru dalam melaksanakan pembelajaran. Salah satu inovasi terbesar yang dialami bangsa ini di bidang komunikasi adalah dengan diluncurkan sistem komunikasi satelit domestik (satelit PALAPA) pada tanggal 16 Agustus 1976. Peluncuran satelit PALAPA tersebut telah memposisikan Indonesia menjadi suatu negara Asia pertama yang memprakarsai bangkitnya sistem telekomunikasi dunia yang mulai diperkenalkan di Amerika Serikat pada tahun 1960an. Sejalan dengan hal ini, Indonesia menjadi negara berkembang pertama yang memiliki satelit domestik atau negara kedua setelah Kanada yang telah menggunakan satelit domestik yang dikenal dengan ANIK.1 Bahkan Indonesia diklaim sebagai negara berkembang pertama yang mampu menggunakan dan sekaligus memiliki sistem komunikasi yang handal, enam tahun lebih awal dari India, dan sekitar satu dekade lebih dahulu dari negara-negara seperti Cina, Brazil, Meksiko, dan negara-negara Arab di Timur Tengah. Kemajuan sistem telekomunikasi di Indonesia memang merupakan tuntutan hidup yang paling mendesak untuk menyatukan kelima pulau besar, 13,667 pulau kecil yang sudah diidentifikasi, dan sebanyak 1.000 pulau yang telah didiami. Kemudian sistem telekomunikasi yang dibangun juga telah membawa dampak yang sangat berharga bagi pengembangan dan pemerataan kesempatan pendidikan di Indonesia.2 Berdirinya Universitas Terbuka (UT) pada tahun 1984 adalah suatu upaya untuk mengakselerasi pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. UT dibangun untuk menjalankan fungsi menyediakan akses bagi masyarakat Indonesia yang tidak dapat mengikuti pendidikan tinggi karena status ekonomi dan keterbatasan daya jangkauan secara geografis. Dalam perkembangannya hingga saat ini, pendidikan jarak jauh menjadi simbol pembelajaran yang memadukan hasil rancangan teknologi canggih untuk tujuan menyampaikan pesan-pesan pendidikan. Hampir semua universitas di negara-negara maju dan beberapa universitas di Indonesia telah menawarkan sistem pendidikan jarak jauh melalui sistem pembelajaran e-learning. Sayangnya, pembangunan sistem telekomunikasi dan teknologi informasi di Indonesia tidak didesain khusus untuk maksud penyelenggaraan pendidikan yang berbasis teknologi informasi. Bahkan terkesan kedua sektor pendidikan dan telekomunikasi berjalan secara terpisah dan tidak saling terkait satu sama lain. Padahal negara memiliki kewajiban untuk mengakselerasi tumbuh dan berkembangnya sistem komunikasi yang efektif dan mengembangkan sumber daya manusia melalui jalur-jalur pendidikan. Oleh karena itu, tulisan ini menyoroti integrasi teknologi informasi ke dalam pembelajaran dengan melihat peranan teknologi informasi dan strategi integrasi teknologi ke dalam pembelajaran dengan berbagai kemungkinan dan kendala yang dihadapi dalam melakukan aktivitas integrasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Integrasi Teknologi Informasi
1. Pengertian Teknologi Informasi
Teknologi Informasi (TI), atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah Information technology (IT) adalah istilah umum untuk teknologi apa pun yang membantu manusia dalam membuat, mengubah, menyimpan, mengomunikasikan dan/atau menyebarkan informasi. TI menyatukan komputasi dan komunikasi berkecepatan tinggi untuk data, suara, dan video. Contoh dari Teknologi Informasi bukan hanya berupa komputer pribadi, tetapi juga telepon, TV, peralatan rumah tangga elektronik, dan peranti genggam modern (misalnya ponsel). Dalam konteks bisnis, Information Technology Association of America menjelaskan. Pengolahan, penyimpanan dan penyebaran vokal, informasi bergambar, teks dan numerik oleh mikroelektronika berbasis kombinasi komputasi dan telekomunikasi.
Istilah dalam pengertian modern pertama kali muncul dalam sebuah artikel 1958 yang diterbitkan dalam Harvard Business Review, di mana penulis Leavitt dan Whisler berkomentar bahwa "teknologi baru belum memiliki nama tunggal yang didirikan. Kita akan menyebutnya teknologi informasi (TI). ". Beberapa bidang modern yang muncul dari teknologi informasi adalah generasi berikutnya teknologi web, bioinformatika, ''Cloud Computing'', sistem informasi global, Skala besar basis pengetahuan dan lain-lain.
B. Integrasi Teknlogi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pembelajaran
Secara pragmatis, konsep E-learning telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan model pembelajaran multisumber sekarang ini. Namun, upaya untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran masih menemui kendala yang begitu besar. Kendala yang dimaksud terkait dengan tidak seiringnya kemajuan di bidang teknologi informasi di satu sisi dengan kemajuan di bidang teori-teori pendidikan di sisi lain. Akibatnya, sering kedua disiplin ilmu ini berjalan secara terpisah. Artinya, keinginan para teknolog informasi untuk mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran terhambat dengan tidak digunakannya teori-teori pembelajaran dalam teknologi informasi. Sebaliknya, kemampuan untuk mengembangkan teori-teori pembelajaran yang dilakukan dalam pendidikan sering dihambat oleh terbatasnya pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan teknologi informasi. Selanjutnya, pemanfaatan teknologi informasi dalam pembelajaran belum banyak mengintegrasikan Surat Elektronik (E-mail), Kamera digital, MP3 Players, Web Sites, Wikipedia, Podcasting, YouTube, Blogging, dan sistem teleconference yang memanfaatkan software online seperti Skype. Email hanya digunakan sebagai media komunikasi untuk mensharing informasi dan menanyakan khabar. Begitu pula ruang chatting (komunikasi sinkronous secara elektronik melalui Internet) belum didesain khusus untuk menyampaikan pesan-pesan pendidikan secara formal. Juga, pemanfaatan video pembelajaran dan berbagai jenis video lainnya yang tersimpan dalam You Tube yang berfungsi untuk mensharing video di mana pengguna dapat mengupload, melihat, dan membagi video klip, belum terintegrasi dengan baik dalam ko pembelajaran. Pemanfaatan youtube baru sebatas mengupload untuk sekedar menyimpan hasil rancangan video agar pihak lain yang berada di mana pun di dunia dapat mengakses. Sayangnya, penggunaan You Tube ini di Indonesia belum dirancang dan diintegrasikan untuk kebutuhan pembelajaran yang sewaktu-waktu dapat diakses. Hampir semua rancangan video baru merupakan wadah hiburan semata. Walaupun teknologi informasi telah diintegrasi pada pembelajaran pada beberapa sekolah, berbagai aspek seperti agama, umur, kultur, latar belakang sosio-ekonomi, interes, pengalaman, level pendidikan menjadi hal yang sangat diperhitungan. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir ketidakberterimaan penggunakan teknologi karena alasan yang sifatnya ideologis dan dogmatis.
Di samping itu, pada saat pengembangan sistem pembelajaran, sering tidak memperhatikan tentang desain dan pengembangan sistem, interactivity, active learning, visual imagery, dan komunikasi yang efektif. Padahal proses pengembangan pembelajaran untuk pendidikan jarak jauh harus melalui tahap perancangan, pengembangan, evaluasi, dan revisi. Dalam mendesain pendidikan jarak jauh yang efektif, harus diperhatikan, bukan hanya tujuan, kebutuhan, dan karakteristik dosen dan mahasiswa atau guru dan siswa, melainkan juga kebutuhan isi dan hambatan teknis yang mungkin terjadi. Revisi dilakukan berdasarkan masukan dari instruktur, spesialis pembuat isi, dan mahasiswa selama dalam proses berjalan. Keberhasilan sistem pendidikan jarak jauh antara lain ditentukan oleh adanya interaksi antara dosen dan mahasiswa, antara mahasiswa dan lingkungan pendidikan, dan antara mahasiswa. Partisipasi aktif peserta pendidikan jarak jauh mempengaruhi cara bagaimana mereka berhubungan dengan materi yang akan dipelajari. Pembelajaran lewat televisi dapat memotivasi dan merangsang keinginan dalam proses pembelajaran. Namun, jangan sampai terjadi distorsi karena adanya hiburan. Harus ada penyeleksian antara informasi yang tidak berguna dengan yang berkualitas, menentukan mana yang layak dan tidak, mengidentifikasi penyimpangan, membedakan fakta dari yang bukan fakta, dan mengerti bagaimana teknologi dapat memberikan informasi berkualitas. Desain instruksional dimulai dengan mengerti harapan pemakai, dan mengenal mereka sebagai individual yang mempunyai pandangan berbeda dengan perancang sistem.
Dengan memahami keingingan pemakai maka dapat dibangun suatu komunikasi yang efektif. Untuk dapat mengintegrasikan semua komponen teknologi informasi perlu dijabarkan beberapa teori dan model integrasi teknologi ke dalam pembelajaran. Salah satu teori yang dapat digunakan dalam integrasi teknologi ke dalam pembelajaran adalah teori difusi inovasi. Teori ini bukan saja memberikan kerangka dasar dalam mengadopsi dan mengintegrasi, melainkan juga beberapa strategi dan skenario yang dapat memberikan kemudahan dalam melakukan integrasi. Dalam mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran, para integrator atau adopter perlu malakukan lima fase dalam integrasi, yakni (1) menentukan keuntungan relatif, (2) menentukan tujuan dan penilaian, (3) mendesain strategi integrasi, (4) mempersiapkan lingkungan pembelajaran, (5) mengevaluasi dan merevisi strategi integrasi.
Dalam menentukan keuntungan relatif, perlu menjawab pertanyaan seperti ”mengapa menggunakan metode berdasarkan teknologi?” Pertanyaan ini harus dijawab dengan menganalisis pertama, tingkat keberterimaan (compatibility) baik dilihat dari perspektif nilai-nilai budaya dan keyakinan maupun dari sudut pandang yang menggambarkan kebaikan bagi guru, murid, dan seluruh komponen yang terkait. Juga terkait dengan kesesuaian antara teknologi yang diintegrasikan dengan kondisi real lingkungan di mana diterapkan teknologi. Kedua, tingkat kesulitan (complexity) yang menggambarkan kemudahan dalam menggunakannya untuk kebutuhan pembelajaran. Ketiga, ketercobaan (triability) dalam penerapaannya yang merujuk pada apakah sudah dapat diterapkan sesuai kondisi lingkungan sebelum mengambil keputusan final. Keempat, keterhandalan dalam pengamatan yang merujuk pada tingkat keberterimaan pada pihak lain yang sudah pernah melaksanakan uji coba. Integrasi teknologi juga perlu menentukan tujuan dan penilaian yang dapat dikembangkan dengan menjabarkan pertanyaan bagaimana mengetahui bahwa pemelajar sudah melakukan aktivitas belajar? Untuk merancang tujuan dan menentukan penilaian dapat menggunakan daftar check list kinerja, check list kriteria, dan rubrik. Dengan menggunakan instrumen tujuan dan evaluasi tersebut, maka akan diketahui kinerja yang bagaimana yang diinginkan kepada pemelajar untuk dikuasai, cara yang paling sesuai untuk mengukur kemampuan dan kinerja pemelajar, instrumen yang akan digunakan apakah harus dibuat atau hanya dikembangkan saja, dan menentukan metode apa yang mungkin bisa digunakan untuk mengukur dan menilai keberhasilan. Untuk memudahkan dalam mendesain strategi integrasi teknologi ke dalam pembelajaran, perlu menjawab pertanyaan strategi dan Kegiatan belajar yang bagaimana yang mungkin bisa berjalan dengan baik? Dalam menjawab pertanyaan ini perlu dikaji berbagai pendekatan dalam pembelajaran, pendekatan yang digunakan dalam implementasi kurikulum, pengelompokkan, dan sekuensi. Hal ini akan mengarahkan pada bentuk aktivitas yang digunakan seperti metode langsung, konstruktivis, atau penggabungan dari kedua metode itu. Mungkin juga apakah dalam melaksanakan kegiatan tersebut dilakukan secara individu, berpasangpasangan, kelompok kecil, kelompok besar, atau seluruh kelas. Lebih lanjut, apakah perlu dipersiapkan strategi dan model penilaian tersendiri untuk menangani pemelajar minoritas dalam suku, atau berkebutuhan khusus. Hal-hal seperti ini perlu dipikirkan ketika mengintegrasikan teknologi ke dalam pembelajaran.
Dalam mempersiapkan lingkungan yang digunakan dalam mengintegrasi teknologi, perlu mempertimbangkan pertanyaan berikut: adakah tempat-tempat yang suka kondisi tertentu untuk menerapkan teknologi yang diintegrasikan? Tentu saja, hal ini berkaitan langsung dengan jumlah komputer, software, hardware, peralatan dan media atau teknologi lain yang mendukung proses pembelajaran. Jangka waktu yang harus dipersiapkan dan disusun dalam bentuk schedule. Di samping itu, aspek privacy dan safety yang mendukung keamanan dalam belajar. Terkadang, unsur-unsur yang mengandung kerahasiaan dan keamanan luput dari pengawasan. Akibatnya, kebebasan anak-anak di bawah umur sering dengan mudah mengakses berbagai situs yang seharusnya untuk ukuran umur mereka belum dapat mengaksesnya. Terakhir, dalam melakukan evaluasi dan revisi perlu memperhatikan pertanyaan apa yang telah dilakukan dengan baik? apa yang harus diperbaiki? Pertanyaan ini dapat dijawab dan dikaji lebih jauh dengan menganalisis problem pembelajaran yang harus diselesaikan, jenis aktivitas yang menggambarkan berbagai strategi yang mungkin sangat cocok untuk menyelesaikan persoalan, perbaikan kegiatan, instrumen untuk mengumpulkan data, hasil yang diperoleh dalam menggunakan teknologi, cara alternatif yang lebih baik, sesuatu yang harus diperbaiki untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Semua hal ini harus dikaji lebih mendalam untuk memberikan gambaran yang jelas tentang hasil yang diperoleh dan digunakan melakukan revisi, perbaikan, atau menggantinya dengan berbagai alternatif strategi lainnya.
C. Peranan Teknologi Informasi Dan Komunikasi Dalam Pembelajaran
Teknologi Informasi dan komunikasi adalah ilmu yang mempelajari tentang desain, pengembangan, implementasi, manajemen sistem informasi yang berbasiskan komputer, khususnya aplikasi software dan hardware. Berdasarkan definisi ini, Teknologi Informasi dan komunikasi berhubungan dengan penggunaan komputer secara elektronik dan software komputer untuk mengubah, menyimpan, memproteksi, memproses, mentransmisi, dan memanggil kembali segala informasi secara aman. Sejalan dengan definisi yang dikemukakan di atas, Association of educational communication technology (AECT) memberikan definisi tentang teknologi pembelajaran, yaitu teori dan praktek desain, pengembangan, pemanfaatan, manajemen, dan evaluasi terhadap proses dan sumber-sumber belajar. Teori yang dimaksud dalam definisi tersebut mencakup konsep, konstruksi, prinsip, dan proposisi yang berkontribusi pada batang tubuh ilmu pengetahuan. Sedangkan, praktek melibatkan aplikasi ilmu pengetahuan untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Lebih jauh teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi yang membawa data, suara, atau gambar.
Teknologi informasi ini merupakan subsistem dari sistem informasi terutama dalam tinjauan teknologi. Teknologi informasi dan komunikasi adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika, terutama komputer, untuk menyimpan, menganalisis, dan mendistribusikan apa saja termasuk kata-kata,bilangan dan gambar. Hal ini mencakup perangkat keras, perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil dan memanipulasi atau menampilkan data. Selain itu, teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi.
Perkembangan teknologi informasi telah membawa dampak yang begitu besar dalam dunia pendidikan. Setidaknya ada lima pergeseran yang dapat diidentifikasi dalam hubungannya dengan proses pembelajaran. Kelima pergeseran yang dimaksud dapat dijabarkan sebagai berikut: - Pergeseran dari pelatihan ke perbaikan kinerja - Pergeseran dari ruang kelas ke ruangan maya yang dapat berlangsung kapan dan di mana saja, - Pergeseran dari kertas ke “on line” atau saluran, - Pergeseran fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, - Pergeseran dari waktu siklus ke waktu nyata.5 Pergeseran ini telah membawa pengaruh pada perubahan pola, metode, dan strategi penyajian pembelajaran di samping pendekatan yang digunakan juga ikut bergeser. Untuk memahami lebih jauh tentang pendekatan yang sering digunakan dalam pembelajaran, dapat dikaji melalui akronim waktu (time) dan tempat (place).6 Pendidikan yang menerapkan same time- same place (waktu yang sama – tempat yang sama), different time – same place (waktu yang berbeda - tempat yang sama), same time – different place (waktu yang sama – tempat yang berbeda), dan different time – different place (waktu yang berbeda – tempat yang berbeda). Model pendidikan traditional (face to face) mengambil ciri waktu yang sama – tempat yang sama, yang menjadi guru sebagai pusat belajar. Artinya, guru yang mengendalikan segala sesuatu yang terkait dengan pelaksanaan pendidikan. Pendidikan yang menggunakan pendekatan waktu yang berbeda - tempat yang sama menawarkan proses kemandirian dalam belajar seperti yang terjadi pada pusat belajar, media center, atau laboratorium komputer di mana siswa dapat memilih waktu menurut kesiapan mereka sendiri. Kedua pendekatan pendidikan yang terakhir di atas, yakni: (1) waktu yang sama – tempat yang berbeda, dan (2) waktu yang berbeda – tempat yang berbeda menggunakan sistem telekomunikasi dalam penyampaian pesanpesan pendidikan. Kedua model inilah menggunakan komputer untuk menghubungkan ruangan kelas lokal yang menghadirkan guru dan murid dengan siswa/mahasiswa yang berada pada ruangan kelas jarak jauh. Selanjutnya, model pendidikan pada waktu yang sama – tempat yang berbeda, juga menggunakan basis satelit, video kompres, viber-optic. Sedangkan untuk model pendidikan pada waktu yang berbeda – tempat yang berbeda, menggunakan World Wide Web (www) untuk menjadi sumber belajar. Di sini siswa/mahasiswa dapat mengakses materi pembelajaran kapan, dan di mana saja mereka berada. Model yang terakhir ini disebut asynchrounous distance education, model pendidikan jarak jauh asingkronous.
Penggunaan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb telah membangun suatu model interaksi yang terbangun dalam proses pembelajaran sekarang ini. Interaksi antara guru/dosen dan siswa/mahasiswa tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Dengan adanya teknologi informasi sekarang ini guru/dosen dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan mahasiswa. Demikian pula mahasiswa dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin populer saat ini ialah elearning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. E-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: - E-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, - Pengiriman sampai ke pengguna dilakukan melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, - Terfokus pada pandangan luas tentang pembelajaran.7 Pemanfaatan E-learning dalam pembelajaran sebenarnya merupakan suatu langkah strategis untuk menggali potensi yang di bawah manusia sejak lahir karena dapat mengkonstruksi pengetahui melalui pemanfaatan berbagai sumber belajar. Melalui pembelajaran e-learning membangun manusia seutuhnya menjadi suatu hal yang sangat multak. Keutuhan manusia dapat dilihat dari aspek jasadiyah yang berkembang menjadi keterampilan yang harus dimiliki untuk bisa mengembangkan dan memanfaatkan teknologi. Di samping itu, penajaman aspek spiritual pun dapat diwujudkan melalui penggunakan teknologi untuk mengungkap hakekat sesuatu yang tidak dapat ditangkap oleh panca indera seperti yang dilakukan oleh Ary Ginanjar dalam program ESQnya. Dengan demikian, elearning telah mengangkat harkat dan martabat manusia sehingga bisa menjadi manusia seutuhnya baik menyangkut aspek jasadiyah maupun aspek rohaniahnya.
DAFTAR PUSATAKA
Heinich, R., M. Molenda, J. D. Russell, & S. E. Smaldino, Instructional media and technologies for learning. Seventh edition. Upper Saddle River, New Jersey: Pearson Education. 2002.
Ibrahim, M. D., Planning and development of Indonesia’s domestic communications satellite system Palapa, Online Journal of Space Communication, http://satjournal.tcom.ohiou.edu/issue8/hismarwah .html), 2005.
Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007
Komentar
Posting Komentar